Hoaks Musuh yang Tidak Disadari


Nama Kelompok dan NIM :
Salma Salsabila Prayitno (111911133049), Syifa Kamila (111911133068), Adelia Putri Septiani (111911133073), Nabila Nasywa Rasyiidah (111911133076).
Kelas : B-1 Keterampilan Komunikasi
HOAKS MUSUH YANG TIDAK DISADARI
Tahun 2020 merupakan tahun dimana perkembangan revolusi industri 4.0 semakin digencarkan. Salah satu karakteristik dari revolusi ini adalah perpaduan antara teknologi cyber dan otomatisasi. Dampak utama yang dirasakan adalah mudahnya menemukan dan menyebarkan informasi melalui sosial media. Kemudahan ini bisa menjadi dampak positif dan negatif, tergantung individu yang memakainya.
Di Indonesia sendiri, pemakaian teknologi cyber banyak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hoaks atau berita bohong adalah salah satunya. Banyak masyarakat Indonesia yang mudah termakan berita bohong ini. Jika dibiarkan saja tanpa penanganan yang serius, hoaks atau berita bohong bisa menjadi musuh yang tidak disadari. Musuh yang menganggu ketentraman dan kestabilan kondisi di Indonesia. Menurut Laporan Isu Hoaks Kominfo per 14 Juni 2020 setidaknya terdapat 133 berita hoaks yang telah ditemukan Kominfo dengan rata-rata mencapai 9-10 berita hoaks per harinya (Kominfo, 2020). Angka ini tergolong tinggi mengingat data ini hanya diambil pada tengah bulan dan akan terus meningkat jumlahnya pada akhir bulan nanti. Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah melakukan beberapa tindakan untuk menghambat penyebaran berita bohong atau hoaks ini. Tindakan tersebut meliputi pemblokiran situs yang bermasalah, pembentukan Badan Siber Nasional, dan kerja sama dengan Dewan Pers. (Siswoko, 2017). Namun, untuk menghentikan penyebaran berita bohong atau hoaks, dibutuhkan peran dari masyarakat juga. Masyarakat tidak seharusnya mudah menerima berita apa saja yang ditemukan di sosial media. Masyarakat perlu memilah mana berita yang terpercaya dan mana berita bohong atau hoaks. Ada empat cara yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia untuk memilah berita hoaks secara mandiri.
Pertama, memahami apa itu berita dan hoaks. Berita merupakan pemberitahuan tentang peristiwa yang sedang terjadi. Ada etika yang harus dipenuhi dalam menyebarkan berita, antara lain berdasarkan fakta, aktual, berimbang, dan lengkap. Sedangkan menurut Dewan Pers, ciri-ciri hoax adalah sebagai berikut: (1) Mengakibatkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan. (2) Sumber berita tidak jelas. Hoaks di media sosial biasanya pemberitaan media yang tidak terverifikasi, tidak berimbang, dan cenderung menyudutkan pihak tertentu. (3) Bermuatan fanatisme atas nama ideologi, judul, dan pengantarnya provokatif, memberikan penghukuman serta menyembunyikan fakta dan data. Ciri khas lain berita hoaks ialah di dalam teks berita tersebut banyak ditemukan huruf kapital, huruf tebal (bold), tanda seru, dan tanpa menyebutkan sumber informasi secara lengkap ("Dewan Pers Beberkan Ciri-Ciri Berita Hoax", 2017). Berdasarkan hal itu, sudah dapat dilihat hoaks tidak memenuhi etika untuk menyebarkan berita.
Kedua, masyarakat perlu menyadari pentingnya memilah berita dengan baik. Hal ini dikarenakan berita bohong memberikan dampak negatif yang sudah pasti merugikan. Pada dasarnya terdapat 3 jenis informasi hoax yang bersikulasi dalam masyarakat awam, yang pertama yakni mengenai pasien yang terjangkit corona, deskripsi kesehatan, dan yang terakhir ialah perilaku masyarakat tentang hal ini (Rahayu & Sensusiyarti, 2020). Pada 23 Januari 2020, Menteri Kesehatan dalam pernyataannya pada laman kominfo.go.id telah membantah sebuah pesan yang mengabarkan bahwa virus Corona telah masuk ke wilayah Indonesia dibawa oleh karyawan asal Cina yang bekerja di Gedung BRI 2 Benhil, Jakarta Pusat, faktanya pekerja tersebut menderita radang tenggorokan, bukan terjangkit COVID-19. Berita ini muncul di awal Januari dimana belum ada kasus positif corona di Indonesia. Jika masyarakat percaya dengan berita ini dapat menimbulkan kondisi yang meresahkan dan tidak kondusif. Kemudian, ada juga berita hoaks yang berisi tentang rokok yang dapat memulihkan rasa sakit akibat COVID-19. WHO selaku organisasi kesehatan dunia juga berusaha mengklarifikasi data-data palsu mengenai informasi Corona, seperti kabar bahwa cuaca salju ataupun dingin dapat membunuh virus Corona, mandi air panas yang kabarnya bisa mencegah terjangkitnya COVID-19, serta pengering tangan, disinfektan, dan lampu UV yang membunuh virus , yang mana tentu saja hal-hal ini tidak benar adanya. Virus COVID-19 ini menyerang saluran pernafasan, sedangkan rokok merupakan racun yang bisa merusak alat pernafasan manusia. Hasilnya bukan mengurangi rasa sakit akibat COVID-19, tetapi menambah rasa sakit akibat COVID-19. Selain itu pada 21 Maret, Kominfo menyebarluaskan bantahan PT Jasa Marga mengenai informasi palsu penutupan sejumlah gerbang tol Tanggerang-Jakarta dan Bekasi-Jakarta. Presiden Jokowi juga tidak luput dari isu hoax, dalam sebuah tautan berjudul “Jokowi Minta Perbanyak Acara di Daerah Wisata yang Terdampak Virus Corona”, tentu saja hal ini memunculkan reaksi kecam dari masyarakat yang berasumsi bahwa Jokowi sengaja melakukan hal tersebut agar warga negara asing dari Cina digratiskan masuk setelah banyak rakyat yang jatuh menjadi korban sehingga pemerintah dapat menyalahkan gubernur Jakarta, reaksi buruk seperti inilah yang akan timbul apabila masyarakat tidak terlebih dahulu menyusuri kebenaran sebuah berita.
Ketiga, verifikasi atau pastikan kebenaran dari suatu berita secara mandiri. Verifikasi ini dapat dilakukan dengan membaca dengan cermat, menelaah apakah berita itu benar atau tidak, dan menahan diri agar tidak langsung menyebarkan ke orang lain. Niatan untuk mencegah berita tersebar ke orang lain merupakan salah satu pintu masuk mencegah hoaks. (Setiawan, 2018). Dalam verifikasi, peningkatan daya pikir analitis adalah hal yang penting. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengecek sumber berita. Kemudian menurut (Wibowo, 2017) terdapat beberapa ciri yang dapat menjadi indikator berita bohong. Ciri tersebut dapat dilihat dari judul berita seperti judul yang provokatif dan memiliki tanda baca berlebihan. Pada isi berita, bahasa yang tidak baku, kasar atau sarkasme, dan mengandung kalimat imperatif seperti “sebarkan berita ini bila...” juga dapat menjadi ciri berita hoaks. Keempat atau terakhir, dukungan dari kelompok. Karena usaha yang dilakukan bersama-sama dalam melawan hoaks akan menciptakan masyarakat beradab yang menggusur semua berita bohong.
Dari keempat cara yang sudah dijelaskan, masyarakat bisa melakukannya dan ikut berpartisipasi dalam mencegah bahkan menghentikan penyebaran berita bohong atau hoaks ini. Seperti yang kita ketahui berita bohong atau hoaks bisa menjadi musuh yang tidak kita sadari. Maka dari itu, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama memberantas penyebaran berita bohong sehingga kondisi bisa stabil dan kondusif.

Sumber Referensi :
"Dewan Pers Beberkan Ciri-Ciri Berita Hoax". (2017, Agustus). ETIKA: Menjaga dan Melindungi Kemerdekaan Pers, pp. 2-3.
Kominfo. (2020, Juni 14). Laporan Isu Hoaks. Retrieved Juni 14, 2020, from Kominfo: https://www.kominfo.go.id/content/all/laporan_isu_hoaks
Rahayu, R. N., & Sensusiyarti. (2020). Analisis Beita Hoax COVID-19 di MEdia Sosial di Indonesia. Intelektiva: Jurnal Ekonomi, Sosial & Humaniora, 60-73.
Setiawan, B. (2018). Indonesia Darurat Hoaks? Informasi Kajian Ilmu Komunikasi, 5-6. Retrieved Mei 29, 2020, from KBBI Kemendikbud Web Site: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/hoaks
Siswoko, K. H. (2017). Kebijakan Pemerintah Menangkal Penyebaran. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni , 18.
Wibowo, E. K. (2017). Bagaimana Mendeteksi Berita Palsu Sedini Mungkin. Menelusuri Jejak Hoaks Dari Kacamata Bahasa, 1-11.

Powered by Blogger.